Erdogan Dorong Ukraina Lanjut Ekspor Gandum via Laut Hitam

Erdogan Dorong Ukraina Lanjut Ekspor Gandum via Laut Hitam

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mensupport Ukraina melanjutkan ekspor gandum lewat Laut Hitam. Sekiranya ini disepakati bersama Ukraina dan PBB demi menekan akibat krisis pangan princessmonkey.com.

“Inisiatif yang melibatkan para pihak dan sudah sukses bahwa seluruh pihak duduk di meja diplomasi berulang kali bersama Ukraina, PBB, kami sudah membangun satu koridor untuk ekspor gandum di Laut Hitam untuk menolong krisis pangan” kata Erdogan di Nusa Dua, Rabu (16/11/2022).

Baca Juga : Engineer Twitter Dipecat Karena Kicauan Elon Musk

Ekspor Gandum Tujuan Afrika

Erdogan mempertimbangkan bahwa ekspor gandum dapat terus berjalan secara khusus untuk Afrika. “Lebih dari 11 juta ton gandum masuk pasar dunia. Kami melanjutkan aktivitas kami dan mempertimbangkan bahwa transportasi gandum bisa terus menerus berjalan lancar secara khusus untuk tujuan Afrika” ujarnya.

Lebih jauh, dia mengatakan ekspor gandum asal Ukraina telah menempuh 11 juta ton. Pihaknya akan bersua dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mendiskusikan ekspor pupuk dan amonia.

“Seputar ekspor gandum hal ini telah menempuh lebih dari 11 ton dan pupuk amat penting amonium juga amat penting. Dikala aku kembali ke Turki, aku akan bersua Putin untuk mendiskusikan ekspor pupuk dan amonium. Ini merupakan isi dari perjanjian Istanbul dan kita akan menjalankan hal hal yang demikian” tuturnya.

Pengetatan Berimbas Rantai Pasok

Erdogan kemudian bicara soal pengetatan perjalanan yang berimbas ke rantai pasok, harga pangan, dan daya yang tinggi. Sekiranya ini dapat memicu banyak negara terancam terjun ke lembah resesi.

“Kita masih memandang adanya akibat dari pengetatan perjalanan internasional kepada rantai pasok dan harga bahan pangan daya yang amat tinggi membikin hampir semua dunia masuk resesi” ujarnya.

Kalau tak ada jalan keluar dari resesi, Erdogan mengatakan, akan ada bahaya yang memata-matai dan dapat ‘meledak’ di masa depan.

” tak dapat mencari jalan keluar, keadaan ini akan memburuk dan krisis ini bukan cuma untuk wilayah tertentu melainkan semua negara dari barat ke timur barat ke selatan. Negara yang paling rapuh merupakan di Asia yg paling akan menikmati pengaruhnya” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *