Ulasan Film Inside Out

Pernahkah kamu berpikir sebenarnya apa yang terjadi pada otakmu ketika sedang menangis, tertawa, malu, marah, dan jijik terhadap sesuatu? Di film Inside Out ini, kalian akan melihat gambaran bagaimana kerja otak dengan cara yang menggemaskan. Mungkin itu bukan benar – benar bagaimana otak bekerja, hanya saja ini tetap menjadi tontonan menarik untuk disaksikan bersama dengan keluarga.

Inside out adalah film dari Pixar Animation Studio yang dirilis pada tahun 2015 oleh Walt Disney Pictures. Film ini akan mengajak penonton melihat perubahan emosi yang signifikan saat seorang anak, bernama Riley, ketika ia memasuki usia remaja.

Diawali dengan kisah masa kecil Riley yang merupakan anak ceria dan periang, ia juga penuh dengan kasih sayang yang orang tuanya berikan. Sampai suatu ketika, ia dan keluarganya harus pindah ke San Fransisco, California, yang membuat Riley mengalami perubahan emosi dalam dirinya.

Ia merasa kesulitan untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya yang dirasa benar – benar berbeda dengan tempat yang sebelumnya.

Dalam film ini, Riley memiliki 5 karakter emosi, yaitu Joy, Sadness, Fear, Disgust, dan Anger. 5 karakter ini cukup untuk mewakili perasaan apa yang ingin disampaikan ke penonton. Kita akan diajak untuk melihat bagaimana isi kepala dari Riley.

Dapat dikatakan film ini sangat menarik untuk disimak, terlebih lagi sebelumnya sudah dilakukan riset selama 5 tahun lamanya sebelum membuat film ini. Inside Out menunjukkan bahwa memori yang penting dan yang paling berarti nantinya akan disimpan pada core memories dan akan memberikan pengaruh yang besar.

Core memories ini akan menentukan bagaimana nantinya kepribadian dari Riley. Sementara memori lain akan disimpan pada penyimpanan yang luas, baik untuk jangka panjang atau pun memori jangka pendek. Ini semua nantinya akan diproses ketika sedang tertidur, jadi kadang – kadang ada ingatan yang terbuang dan terlupakan ketika kita bangun dari tidur.

Film ini akan mengajak penonton untuk melihat perjalanan dari Joy dan Sadness yang memiliki sifat bertolak belakang. Joy tidak ingin Riley bersedih, itu sebabnya ia tidak begitu menyukai Sadness.

Mereka berdua secara tidak sengaja terhisap oleh pipa yang seharusnya membaca core memories dan menyebabkan mereka berdua terpaksa harus mencari jalan untuk bisa kembali ke tempat asal mereka. Awalnya memang terjadi banyak perseisihan, namun seiring dengan perjalanan mereka, lama – lama mereka semakin mengerti satu sama lainnya.

Jika diperhatikan lebih lanjut, film ini seakan menunjukkan transisi dari sisi anak – anak ke dewasa. Pemikiran ini yang membuat penonton mudah untuk tersentuh ketika menyaksikannya.

Ketika di perjalanan, Joy dan Sadness bertemu dengan teman imaginary Riley yang sudah mulai dilupakan oleh gadis itu. Tokoh berbentuk gajah dan permen kapas itu bernama Bing Bong. Ia membantu Joy dan Sadness untuk menemukan jalan menuju tempat asal Joy dan Sadnees. Tapi di tengah perjalanan mereka, Bing Bong yang berusaha untuk menyelamatkan Joy akhirnya mengorbankan diri untuk dilupakan oleh Riley selamanya agar Joy bisa tetap pergi dari jurang.

Moral yang bisa kita ambil dari film ini salah satunya adalah mengenai kita yang harus menerima segala aspek dalam diri kita. Masing – masing emosi yang ada pada diri bisa berperan penting untuk proses kedewasaan kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik nantinya ketika sudah menerima diri kita sepenuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *