Film review : Artemis Fowl

Film Artemis Fowl sepertinya selalu mengalami kendala dari masa produksi hingga perilisannya. Pasalnya film ini terjebak selama 20 tahun dalam masa para-produksi, lalu mengalami pergantian penulis naskah, sutradara, sampai ke rumah produksi. Setelah selesai produksi pun, film yang direncanakan tayang pada tanggal 9 Agustus 2020 ini akhirnya tertunda karena merebaknya COVID-19, lalu pihak Disney memilih untuk merilisnya pada Disney+ di tanggal 12 Juni 2020.

Artemis Fowl sendiri merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah novel fantasi milik Eoin Colfer. Mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Artemis Fowl, ia masih berusia 12 tahun namun merupakan anak yang jenius dan penuh akan pertimbangan. Artemis sendiri merupakan keturunan dari keluarga dengan otak kriminal yang tinggi.

 Anak yang pandai dalam teknologi ini tidak mempercayai keberadaan peri dan sihir yang ayahnya ceritakan. Namun, pada suatu ketika, sang ayah menghilang. Setelahnya ia mendapati kenyataan kalau semua kisah yang ayahnya ceritakan selama ini merupakan sebuah kenyataan.

Meski novel asli dari film ini memiliki banyak penggemar, bukan berati mereka akan menyukai film ini. Pasalnya banyak yang kecewa karena film ini seakan menggerus karakterisasi inovatif serta kecerdikan plot dari Eoin Colfer. Kisahnya menjadi terkesan kusut yang tidak menarik.

Mungkin itu semua karena Disney mengubah film ini menjadi film yang ramah dengan semua usia, itu membuat kisahnya menjadi tampak seperti dongeng klise yang menghilangkan keajaiban yang ada pada novel Artemis Fowl.

Seperti pada umumnya, Artemis Fowl versi Disney ini merupakan pahlawan baik pada umumnya. Padahal sebenarnya ia merupakan sosok yang licik dan bahkan hampir seperti tokoh antagonis. Meski demikian, karena motivasinya yang manusiawi, membuat para pembaca tetap menyukai tokoh ini.

Lalu tokoh jahat yang ada pada film ini digambarkan dengan sosok bertudung yang tidak pernah diperlihatkan wajahnya. Selain itu suaranya yang aneh membuatnya tidak terkesan mengintimidasi sama sekali.

Untuk fokus yang bisa menjalin rangka dari cerita, ada sebuah benda ajaib yang diberi nama The Aculos. Artemis berusaha untuk bisa mendapatkan benda itu dari para peri untuk menebus ayahnya yang diculik oleh sang penjahat bernama Opal Koboi.

Selain itu terdapat bagian yang membuat penonton terheran-heran, itu karena Disney seakan memdatkan film ini dan mengejar durasi. Seperti pada bagian di mana Artemis yang bermusuhan dengan seorang peri bernama Holly Short, namun pada emis berikutnya mereka berteman baik.

Namun sisi baik dari film ini adalah efek CGI-nya yang tidak mengecewakan. Dengan biaya produksi yang mencapai $125 Juta, itu benar-benar nampak dari visual yang Disney berikan, terutama pada keindahan kota yang peri tinggali.

Lagu yang digunakan untuk film ini juga tidak mengecewakan, karena melodi tradisional Irlandia seakan menyatu dengan jalannya film.

Pada akhir kisah film ini menunjukkan kalau akan ada sekuel untuk Artemis Fowl. Namun, kami harapkan Disney bisa melihat komentar kurang hangat dari para penggemar novel ini dan melakukan evaluasi kembali. Semoga juga Disney dapat mencoba memahami kisah novel fantasi Artemis Fowl. Karena meski merupakan karakter yang anti-hero, tetap ada moral yang bisa diambil dari kisah tersebut.

Untuk yang tertarik menyaksikan Artemis Fowl, kalian bisa coba menyaksikannya melalui Disney+, ya! Meski cukup mengecewakan, film ini sebenarnya masih asik jika ditonton untuk mengisi waktu luang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *