All posts by author

Review: Gnomeo and Juliet

Siapa yang tidak tahu kisah cinta antara Romeo dan Juliet? Bisa dikatakan itu adalah kisah cinta yang romantis namun berakhir tragis. Nah, bagaimana kisah tersebut dilakukan perkembangan dan dibuat kisah yang berbeda dari kisah aslinya? Nah, itulah yang coba dibuat oleh Touchstone, mereka merilis sebuah film animasi di tahun 2011 dengan judul “Gnomeo and Juliet”.

Film ini menggambarkan para Gnome, patung yang biasa berada di kebun dengan topi lancip dan badan pendeknya. Alur cerita yang dibawakannya sendiri mirip dengan alur cerita yang ada pada cerita dari William Shakespeare itu.

Dikisahkan ada 2 kelompok Gnome yang saling berseteru, mereka adalah Gnome merah dan Gnome Biru. Itu dikarenakan pemilik kebun dari mereka masing-masing juga tidak memiliki hubungan yang baik.

Banyak hal yang membuat pemilik rumah mereka yang tinggal bersebelahan ini bertengkar, seperti masalah jemuran, daun pohon, bahkan hal-hal kecil yang tidak perlu dipeributkan.

Pertengkaran mereka itu pun membuat para Gnome yang ada di kebun mereka juga ikut bertengkar, mereka pun sudah berselisih dalam waktu yang lama. Sesekali mereka merencanakan untuk memberikan serangan sebagai pelajaran.

Tapi suatu ketika, anak dari Lady Blueburry si ketua topi merah, Gnomeo, secara tidak sengaja bertemu dengan anak dari Lord Redbrick ketua dari topi merah, yaitu Juliet. Pertemuan itu membuat mereka saling jatuh cinta.

Tetapi mereka sadar kalau itu adalah hal yang tidak mungkin, karena mereka akan ditentang habis-habisan oleh keluarga mereka. Lalu akankah Gnomeo dan Juliet bisa mempertahankan cinta mereka? Atau bahkan mengulang kisah tragis dari apa yang dikisahkan oleh William Shakespeare dalam ceritanya?

Jika Anda merupakan pecinta dari film-film animasi penuh akan warna, film ini bisa menjadi pilihan untuk keluarga Anda bersantai sambil menonton film. Dalam film ini terdapat unsur kelucuan yang menarik, salah satunya ketika para Gnome saling bertengkar dan mencoba mengalahkan satu sama lainnya.

Hal lain yang juga mengundang tawa adalah sahabat baik Juliet, Nanette, si hiasan kolam yang berbentuk kodok, kerap kali membuat penonton tertawa karena tingkahnya.

Selain itu akan ditunjukkan sisi dari para Gnome dengan kehidupannya sebagai Gnome yang terlihat lucu. Meski demikian, tidak semua scene yang ada pada film ini lucu, ada juga kala sedih dan mengharukan yang bisa membuat penonton menitihkan air mata.

Film ini semakin terasa menyenangkan untuk disaksikan dengan tambahan lagu-lagu yang digarap oleh Bernie Taupin dan Elton John. Bagi kalian yang merupakan penggemar dari lagu-lagu Elton John, pasi akan suka dengan film ini,

Ada beberapa musisi yang ikut berpartisipasi dalam lagu-lagu yang ada pada film ini, seperti Lady Gaga, Nelly Furtado, juga Kiki Dee.

Dengan kisah romantis, komedi, bahkan terdapat unsur action yang menggemaskan, membuat film ini cukup patut untuk disaksikan, bahkan tidak kalah dengan film-film Disney yang juga memiliki kualitas cerita dan lagu-lagu berkualitas.

Tetapi salah satu hal yang disayangkan dari film ini adalah mereka menggunakan format 3D yang kurang terasa hidup. Itu membuat beberapa adegan yang ada pada film ini menjadi kurang terasa maksimal.

Nah, itulah ulasan singkat mengenai film dengan judul “Gnomeo dan Juliet” ini, kisahnya menarik dan cocok untuk disaksikan bersama dengan keluarga. Setelah membaca review ini, apakah tertarik untuk menyaksikannya?

Film Disney dengan Musikalisasi Terbaik Sepanjang Waktu

Selain memiliki kisah yang menarik, faktor lain yang membuat film-film Disney digemari oleh banyak orang adalah musik yang ada pada film-film tersebut. Tak jarang lagu-lagu ini berhasil menembus chart tangga lagu ketika filmnya dirilis.

Berikut ini adalah beberapa film Disnet dengan musikalisasi terbaik sepanjang sejarah.

Film Musikalikasi Terbaik Disney

1.Mary Poppins

Mary Poppins adalah filmyang merupakan perpaduan sempurna dari petualangan, keseruan, komedi, cerita, sampai ke musikalisasi yang ada di dalam film ini. Musiknya ikonik dan juga British Accent yang terdapat di dalam film ini menambah kesan menarik dalm film ini. Untuk yang mengaku tidak menyukai film drama musical, mungkin belum pernah menyaksikan film satu ini.

2.Beauty And the Beast

Yang kedua ada film Beauty and The Beast, sebauh film yang merupakan film animasi pertama yang dinominasikan sebgaai film terbaik di Academy Awards. Ini adalah sebuah perpaduan sempurna untuk animasi, film, musik, dan cerita yang memang direncanakan Disney ketika mereka memulai membuat film ini. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Disney dalam membuat ifilm musical di tahun 1991.

3.Aladdin

Siapa yang tidak tahu dengan film Aladdin? Film ini memiliki keseimbangan yang baik anrtara film klasik Disney dengan animasi CGI yang pada kalanya berhasil menembus sebagai yang terbaik pada akhir abad ke 20. Selain itu vokal dari Robin William yang mengisi suara Gennie di film ini menambahkan kesan humor yang menarik untuk sepanjang film.

4.The Nightmare Before Christmas

The Nightmare Before Christmas adalah salah satu dari sedikitnya film stop motion yang Disney miliki. Sejak film ini dirilis, ia berhasil menjadi film liburan terbaik hingga saat ini. Meski memiliki tema yang dark, namun keunikannya dalam membuat halloweeen town yang mencari natal menjadi sebuah inspirasi hingga saat ini.

5.The Little Mermaid

Mengisahkan tentang seorang putri duyung bernama Ariel yang ingin hidup sebagai manusia agar bisa bertemu dengan pangeran yangia cintai sepertinya hingga kini masih menjadi film yang dikenang. Musik-musik yang ada di lagu ini pun dengan mudah diingat oleh mereka yang sudah menyaksikannya. Musik dari Howard Ashman dan Alan Menken sangat booming bahkan hingga sekarang, meski filmnya sudah rilis 3 dekade lalu.

6.Frozen

Mungkin Frozen menjadi salah satu indikator terbaik bagi mereka yang ingin membuat sebuah film animasi yang dicintai oleh banyak orang. Lagu-lagu yang ada pada film ini mungkin terdengar cliche, namun Disney berhasil mengangkat lagu-lagu tersebut masuk ke dalam film yang menjadi hiburan keluarga dan membuatnya menjadi terdengar luar biasa.

7. The Lion King

Bisa dikatakan film ini merupakan salah satu film yang paling dikenali dari Disney pada tahun 1990. Bahkan, ini adalah film yang masih bisa dinikmati dengan baik hingga hari ini. Banyak lagu dari film ini juga yang hingga sekarang masih sering diputar pada film-film lain karena keunikan yang dimilikinya.

8.The Jungle Book

Terakhir ada film The Jungle Book, yang merupakan film animasi menarik. Ini menjadi film Disney yang bisa menggabungkan animasi yang baik dan fabel unik terbaik hingga hari ini. Musikalisasi yang ada di dalam film ini pun menjadi legend hingga hari ini.

Nah, itulah beberapa film dari Disney dengan konsep musikalisasi menarik hingga hari ini. Dari 8 film yang kami rekomendasikan, adakah film dari Disney terbaik menurutmu?

Film review : Artemis Fowl

Film Artemis Fowl sepertinya selalu mengalami kendala dari masa produksi hingga perilisannya. Pasalnya film ini terjebak selama 20 tahun dalam masa para-produksi, lalu mengalami pergantian penulis naskah, sutradara, sampai ke rumah produksi. Setelah selesai produksi pun, film yang direncanakan tayang pada tanggal 9 Agustus 2020 ini akhirnya tertunda karena merebaknya COVID-19, lalu pihak Disney memilih untuk merilisnya pada Disney+ di tanggal 12 Juni 2020.

Artemis Fowl sendiri merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah novel fantasi milik Eoin Colfer. Mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Artemis Fowl, ia masih berusia 12 tahun namun merupakan anak yang jenius dan penuh akan pertimbangan. Artemis sendiri merupakan keturunan dari keluarga dengan otak kriminal yang tinggi.

 Anak yang pandai dalam teknologi ini tidak mempercayai keberadaan peri dan sihir yang ayahnya ceritakan. Namun, pada suatu ketika, sang ayah menghilang. Setelahnya ia mendapati kenyataan kalau semua kisah yang ayahnya ceritakan selama ini merupakan sebuah kenyataan.

Meski novel asli dari film ini memiliki banyak penggemar, bukan berati mereka akan menyukai film ini. Pasalnya banyak yang kecewa karena film ini seakan menggerus karakterisasi inovatif serta kecerdikan plot dari Eoin Colfer. Kisahnya menjadi terkesan kusut yang tidak menarik.

Mungkin itu semua karena Disney mengubah film ini menjadi film yang ramah dengan semua usia, itu membuat kisahnya menjadi tampak seperti dongeng klise yang menghilangkan keajaiban yang ada pada novel Artemis Fowl.

Seperti pada umumnya, Artemis Fowl versi Disney ini merupakan pahlawan baik pada umumnya. Padahal sebenarnya ia merupakan sosok yang licik dan bahkan hampir seperti tokoh antagonis. Meski demikian, karena motivasinya yang manusiawi, membuat para pembaca tetap menyukai tokoh ini.

Lalu tokoh jahat yang ada pada film ini digambarkan dengan sosok bertudung yang tidak pernah diperlihatkan wajahnya. Selain itu suaranya yang aneh membuatnya tidak terkesan mengintimidasi sama sekali.

Untuk fokus yang bisa menjalin rangka dari cerita, ada sebuah benda ajaib yang diberi nama The Aculos. Artemis berusaha untuk bisa mendapatkan benda itu dari para peri untuk menebus ayahnya yang diculik oleh sang penjahat bernama Opal Koboi.

Selain itu terdapat bagian yang membuat penonton terheran-heran, itu karena Disney seakan memdatkan film ini dan mengejar durasi. Seperti pada bagian di mana Artemis yang bermusuhan dengan seorang peri bernama Holly Short, namun pada emis berikutnya mereka berteman baik.

Namun sisi baik dari film ini adalah efek CGI-nya yang tidak mengecewakan. Dengan biaya produksi yang mencapai $125 Juta, itu benar-benar nampak dari visual yang Disney berikan, terutama pada keindahan kota yang peri tinggali.

Lagu yang digunakan untuk film ini juga tidak mengecewakan, karena melodi tradisional Irlandia seakan menyatu dengan jalannya film.

Pada akhir kisah film ini menunjukkan kalau akan ada sekuel untuk Artemis Fowl. Namun, kami harapkan Disney bisa melihat komentar kurang hangat dari para penggemar novel ini dan melakukan evaluasi kembali. Semoga juga Disney dapat mencoba memahami kisah novel fantasi Artemis Fowl. Karena meski merupakan karakter yang anti-hero, tetap ada moral yang bisa diambil dari kisah tersebut.

Untuk yang tertarik menyaksikan Artemis Fowl, kalian bisa coba menyaksikannya melalui Disney+, ya! Meski cukup mengecewakan, film ini sebenarnya masih asik jika ditonton untuk mengisi waktu luang!

Film Animasi Pendek : Bao

Sering kali di awal sebuah film Disney X Pixar kita melihat sebuah film animasi pendek yang menarik untuk juga disimak. Bahkan banyak di antara film animasi pendek itu memberikan kesan yang mendalam bagi yang menyaksikannya. Salah satu film animasi pendek yang disambut baik oleh penonton adalah yang berjudul Bao.

Animasi pendek yang disutradarai oleh sutradara perempuan pertama dari rumah produksi Disney Pixar, Domee Shi. Film animasi pendek ini ditampilkan sebelum para penonton mulai menyaksikan The Incredibles 2.

Ibu dari Domee Shi merupakan seorang imigran keturunan Cina dan Kanada. Ia berlaku sebagai konsultan budaya di dalam film. Salah satu keahlian sang ibu adalah membuat dim sum, itu sangat membantu Shi untuk memastikan kalau adegan pembuatan Bao dalam animasi ini menjadi lebih akurat.

Bao memiliki kisah sederhana, namun bisa menyentuh hati. Dikisahkan seorang wanita yang berasal dari Cina, ia sudah mulai menua namun kesepian. Sang suami pun terlihat tidak begitu sibuk, sehingga mereka jarang berbicara meski singkat.

Pada awal animasi, terlihat wanita itu tengah membuat dim sum. Cara ia membuat dim sum seakan menggambarkan kalau ia memang sudah ahli dalam hal tersebut. Setelah matang, ia menyajikannya dan disantap bersama dengan sang suami yang terburu-buru ketika makan dan langsung berangkat bekerja.

Ketika hendak menghabiskannya, Bao buatannya tiba-tiba hidup. Lalu tumbuh kaki dan tangan yang membuatnya seakan menyerupai bayi manusia.

Kegembiraan ditunjukkan sang ibu saat menerima Bao untuk masuk ke dalam hidupnya. Sang wanita itu merawat Bao dengan penuh kasih sayang. Ia memberikan Bao makanan, menjaganya dengan penuh kasih sayang, mengajaknya berbelanja, tai Chi, dan lainnya.

Tapi Bao merasa sang ibu merasa terlalu over protective padanya, padahal ibu ini khawatir pada Bao. Itu membuat Bao menjadi sosok yang pembangkang dan terkesan menjadi anak yang nakal. Ia bahkan memilih untuk pergi bersama dengan teman-temannya dibandingkan makan dengan sang ibu.

Sampai sang Bao tumbuh dewasa. Bao seakan tumbuh dengan cepat, ia tidak lagi Bao menggemaskan seperti awal ia mengasuhnya. Ketika Bao sudah tumbuh menjadi sosok dewasa, ia menunjukkan sikap yang berbeda. Ia seakan lupa dengan ‘Rumah’ dan melupakan siapa yang selama ini sudah merawatnya. Tentu sang ibu merasa sedih dan kecewa.

Ketika Bao berniat meninggalkan rumah, sang ibu melarangnya. Hingga pada puncaknya kekesalan dan kesedihan sang ibu menjadi satu, ia memakan Bao, Ibu melakukan itu agar Bao tidak semakin memiliki sikap yang buruk.

Sang ibu seakan menyesali perbuatannya, ia menangis semalaman. Tetapi hal mengejutkan terjadi, ketika ia melihat seorang yang mirip Bao, namun dalam bentuk manusia, datang ke kamarnya. Ternyata selama ini sang ibu memvisualisasikan sang anak dalam bentuk Bao.

Pada akhir adegan, mereka seakan memupuk rindu. Ada juga wanita yang pernah dibawa Bao sebelumnya, seakan benar-benar menunjukkan kalau Bao memang merupakan visualisasi dari yang anak.

Dalam kisahnya akan ditunjukkan perjalanan naik dan turun antara hubungan dari orang tua dan anak, namun anaknya dalam gambaran Bao. Ini cukup mirip dengan kisah Manusia Roti jahe, namun Bao lebih ke versi Cina.

Bao merupakan salah satu film animasi pendek terbaik dari Disney Pixar, bahkan sudah memenangkan banyak penghargaan. Tentunya itu tidak terlepas dari pesan yang bisa kita tarik dari film pendek satu ini.

Pete’s Dragon Ulasan

Pernah menyaksikan salah satu film dari Disney satu ini? Pete’s Dragon merupakan film yang mengangkat mengenai kisah persahabatan antara seorang anak dan seekor naga. Film ini sendiri merupakan remake dari animasi klasik Disney di tahun 1977. Tentunya versi remake ini memberikan penampilan yang lebih memukau jika dibandingkan dengan film awalnya itu.

Pada awal film, penonton akan melihat seorang anak kecil bernama Pete, bersama dengan naga berwarna hijau yang besar bernama Eliot. Pete adalah anak yang tidak memiliki orang tua, ia menghabiskan hidupnya bersama dengan Eliot di pegunungan sampai di usianya yang ke 10 tahun. Tentunya ini bisa kembali mengingatkan kita dengan kisah Mowgli dalam film The Jungle Book.

Gunung di mana Pete dan Eliot tinggal berada di sebuah kota kecil yang bernama Millhaven. Di sana tinggal seorang pengukir kayu bernama Mr.Meacham, dan putrinya yang merupakan seorang polisi hutan bernama Grace.

Mr.Meacham sendiri merupakan orang yang satu-satunya pernah melihat Millhaven Dragon di hutan, tetapi tidak pernah ada bukti mengenai keberadaannya. Itu membuat banyak orang menganggap kalau cerita dari pengukir kayu itu hanya karangan belaka.

Akhirnya, pada suatu hari, seorang gadis bernama Natalie bertemu dengan Pete di gunung. Natalie sendiri merupakan anak dari pemiliki pabrik kayu yang ada di gunung itu dan juga merupakan kekasih dari Grace, ia bernama Jack.

Melihat keadaan Pete yang kotor dengan baju compang-camping membuat ia ditangkap dan dibawa ke kota. Pete pun berpisah dengan Eliot, satu-satunya sahabat yang ia miliki. Sedangkan Gavin, adik Jack yang tamak, berusaha untuk memburu Eliot untuk kepentingan pribadi dia.

Grace yang sedang menyelidiki asal-usul dari Pete akhirnya secara perlahan mulai mengetahui perihal naga Millhaven. Jadi, apakah nantinya warga dari Millhaven ini akan hidup berdampingan dengan Eliot si naga raksasa? Lalu, apakah nantinya Pete harus memutuskan untuk hidup bersama dengan manusia, atau memilih untuk terus bersama Eliot?.

Film ini akan mengajak penonton ke petualangan yang menyenangkan tetapi juga menyentuh hati yang menyaksikannya. Efek visual yang dihadirkan tidak perlu untuk diragukan, karena Anda akan melihat pemandangan hutan hijau yang asri dan suasana country di kota kecil, itu membuat penonton merasa tenang ketika menontonnya.

Meski plot yang dibawanya sudah tidak asing lagi di kancah Hollywood, yaitu naga yang tersembunyi di dalam hutan, tetapi dalam film ini bukan hanya sekedar menunjukkan kekerenan dari Eliot si Naga. Karena film ini mengisahkan bagaimana tokohnya akan menemukan keluarganya masing-masing. Bukan hanya dua pemeran utamanya saja, yaitu Pete dan Eliot, melainkan juga tokoh lainnya seperti Grace, Mr.Meacham, bahkan Natalie.

Mungkin aktor dan aktris yang membintangi film ini memang kurang pernah kita dengar namanya, namun mereka tetap bisa memberikan nuansa hidup untuk film ini. Apalagi aktor cilik yang memerankan Pete dan Natalie, karena mereka dapat membuat Anda merasakan kesedihan yang mendalam karena terharu pada akhir kisah film.

Kalau masih ragu untuk menyaksikan film  ini, mari kita lihat ranting yang berhasil diperoleh Pete’s Dragon. Di situs review seperti Rotten Tomatoes, film ini mendapatkan ranting 86% dan dikatakan sebagai remake Disney terbaik yang pernah ada.

Nah, itulah ulasan singkat mengenai film dari Disney berjudul Pete’s Dragon ini. Bagi kamu yang memang gemar dengan film petualangan animasi, Pete’s Dragon ini sangat cocok untuk kamu.

Ulasan Film Disney X Pixar, Onward.

Kualitas film Disney memang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya, apalagi ketika digabungkan dengan Pixar. Salah satu film Disney X Pixar yang wajib menjadi perhatian adalah Onward. Film ini mengisahkan tentang dua orang bersaudara yang melakukan petualangan bersama untuk bisa mencari keajaiban tersisa di dunia.

Kedua kakak beradik ini mencoba menemukan cara agar dapat kembali dengan sang ayah yang sudah meninggal dunia. Tetapi dapatkah kedua saudara yang merupakan kaum elf ini menemukan keajaiban yang mereka cari?

Jika penasaran, simak ulasan mengenai Onward sebelum saksikan filmnya!

Review Film Onward

Onward mengambil latar tempat yang berada di sebuah dunia fantasi dan telah menjadi satu dengan peradaban modern. Hal ini ternyata memiliki dampak pada kekuatan sihir yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, sihir tersebut hampir lenyap karena dianggap sudah tidak praktis lagi. Namun nyatanya, kemampuan supernatural ini dibutuhkan oleh dua bersaudara bernama Ian dan Barley untuk bisa kembali bertemu dengan sang ayah.

Permasalahan yang ada pada film ini dimulai ketika Ian genap berusia 17 tahun, ia mendapatkan sebuah hadiah tongkat sihir dari mendiang sang Ayah. Selain tongkat tersebut, terdapat juga sebuah mantra yang menyebutkan kalau mereka dapat kembali menghidupkan sang ayah selama 24 jam.

Tapi sayangnya, ketika sang ayah sudah mulai terbentuk dari kaki ke pinggang, Phoenix Stone yang merupakan komponen penting tongkat tersebut hancur. Mereka kemudian mencoba untuk menemukan Phoenix Stone dengan modal petunjuk dari permainan kartu milik Barley.

Plot yang ada di film ini tergolong ringan dan mudah untuk diikuti. Namun sayangnya, jalan ceritanya tidak tereksekusi dengan baik, sehingga agak lambat dan membuat konsep ceritanya kurang terasa spesial. Itu mungkin karena memang film ini dikhususkan untuk semua umur, jadi bisa dinikmati oleh semua orang tanpa plot berat di dalamnya.

Perkembangan karakter di film ini sangat terasa, ketika Ian Lightfoot, yang merupakan seorang remaja lugu yang kurang percaya diri, menjadi sosok yang berbeda di akhir film. Sepanjang petualangan dengan sang kakak, ia memiliki perkembangan kepribadian yang sangat terlihat.

Selain itu ikatan persaudaraan antara Ian dan Barley menjadi poin tambahan untuk film ini. Pada awal film, sebenarnya Ian terganggu dengan sifat sang kakak yang badung dan ceroboh. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Ian semakin menghargai kehadiran Barley yang sudah sejak kecil menemaninya. Ini membuat tema kekeluargaan yang ada di film Onward semakin terasa.

Untuk kualitas dari visual yang dimiliki animasi ini sungguh tidak perlu untuk diragukan. Apa lagi ini merupakan hasil karya gabungan Disney x Pixar. Dunia fantasi yang disuguhkan di film Onward ini akan memperlihatkan betapa detail para animator membuat film ini. Selain itu banyak aspek kecil yang membuat film menjadi lebih terkesan hidup.

Di samping kisah menarik, unsur humor juga membuat Onward semakin tidak membosankan untuk ditonton. Sejumlah lawakan di film ini dapat membuat penonton ikut terhibur dan menambah kelucuan di adegan tertentu.

Kalau dilihat secara garis besar, Onward berhasil menyuguhkan film animasi keluarga yang menghibur dan buat kita terharu. Bagi kalian penggemar Spiderman Marvel, jangan ketinggalan film satu ini, ya. Karena pengisi suara dari Ian Lightfoot adalah Tom Holland, si pemeran Spiderman yang lugu kesayangan Iron Man!

Film Animasi Disney Adaptasi Dongeng Klasik

Walt Disney merupakan sebuah rumah produksi yang memiliki basis penggemar besar. Mereka memiliki banyak film yang dicintai oleh banyak orang. Karakter yang dihadirkan juga beragam dan menarik. Beberapa diantara kisah – kisah Disney ada, loh, yang diadaptasi dari kisah – kisah dongeng klasik.

Kisah – kisah klasik ini membantu Disney dalam melahirkan karakter ikonik mereka dan membuat karakter tersebut memiliki ciri khasnya tersendiri. Namun, kisah – kisah yang diangkat Disney ini tidak selalu sama dengan kisah aslinya. Mereka melakukan remake agar menyesuaikan dengan target mereka.

Berikut ini adalah beberapa kisah yang diadaptasi Disney dari kisah dongeng klasik.

Disney dan Kisah Dongeng Klasik

1.Putri Salju (Snow White)

Putri Salju atau Snow White merupakan animasi pertama dari Disney yang diadaptasi dari kisah dongeng klasik. Dongeng yang dimaksud adalah sebuah kisah dari Jerman, mengenai seorang putri bernama Snow White. Kisah ini dituliskan oleh Grimm bersaudara.

Snow White merupakan seorang gadis yang memiliki paras cantik dan kulit putih bersih seperti salju. Karena iri dengan kecantikan yang Snow White miliki, sang ratu merasa iri dan marah. Ia lalu menyuruh seseorang untuk membunuh Snow White dan membawakan jantung dari gadis itu.

Tetapi karena yang disuruh tidak tega untuk membunuh Snow White, ia membiarkan Snow White pergi. Di tengah pelariannya, Snow White menemukan rumah kurcaci dan memutuskan tinggal sementara di sana.

Tetapi karena Snow White dan para kurcaci sudah merasa terikat, akhirnya mereka tinggal bersama dan saling mengandalkan.

Karena tahun Snow White masih hidup, sang ratu berusaha membunuhnya dengan cara menyamar jadi seorang nenek dan memberikan Snow White apel beracun. Meski demikain, animasi ini diakhiri dengan kembali bangunnya Snow White karena seorang pangeran yang menciumnya.

2.Cinderella

Di tahun 1950, Disney memproduksi sebuah animasi bernama Cinderella. Film ini merupakan adaptasi dari dongeng populer Eropa, yaitu Cendrillion, sebuah kisah yang dituliskan oleh sastrawan Prancis bernama Charles Perraults.

Cinderella digambarkan sebagai anak tiri dari ibu tirinya yang jahat. Ia memiliki dua saudari tiri yang juga ikut membuat dirinya menderita. Saat sedang bersedih kala dilarang datang ke pesta, ia bertemu dengan seorang peri yang membuat Cinderella menjadi lebih menawan. Tetapi sihirnya itu hanya bertahan sampai pukul 12 dan nantinya akan hilang.

Tetapi berbekal sepatu kaca yang Cinderella tinggalkan, akhirnya sang pangeran bisa menemukan Cinderella dan mereka hidup bahagia selamanya.

3.The Little Mermaid

Selanjutnya ada kisah sang putri duyung, Ariel. Kisah dalam dongeng ini merupakan karangan Hans Christian Adersen. Dalam versi animasinya, Ariel merupakan sesosok putri duyung yang sangat penasaran dengan dunia manusia. Ia bahkan rela mengganti ekornya dengan kaki manusia agar bisa bertemu dengan sang pangeran.

4.Beauty and the Beast

Beauty and the Beast merupakan sebuah animasi yang diadaptasi dari karya Jeanne Marie Leprince de Beaumont. Animasi ini berpusat pada seorang tokoh yang bernama Belle, seorang gadis yang rela menggantikan ayahnya untuk terkurung di sebuah kastil yang dijaga oleh monster.

Namun siapa sangka kalau akhirnya Belle dan Monster tersebut jatuh cinta. Nyatanya sang monster merupakan pangeran yang terkena kutukan dan akan kembali normal jika menemukan cinta sejatinya.

5.Aladdin

Terakhir adalah Aladdin, sebuah film animasi yang diadaptasi dari dongeng asal Timur Tengah di buku Kisah 1001 Malam. Mengisahkan tokoh bernama Aladdin yang merupakan pemuda sederhana dan hanya memiliki seekor monyet. Suatu ketika ia mendapatkan lampu ajaib yang ternyata berisi Jin pengabul 3 permintaan. Dengan 3 permintaan tersebut ia berusaha untuk membuat seorang gadis yang ia cintai jatuh cinta padanya.

Nah, itulah beberapa kisah yang diangkat dari dongeng klasik. Adakah yang merupakan dongen kesukaanmu?

Ulasan Toy Story 4

Toy Story sepertinya sudah bukan lagi film yang asing untuk kita, khususnya untuk anak – anak generasi 90’an. Banyak yang berpikir Toy Story 3 yang rilis di tahun 2010 merupakan akhir dari perjalanan Woody dan kawan – kawannya. Ternyata masih ada Toy Story 4 yang membawa kisah baru dan konsep yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Di Toy Story 4 ini, tetap mengisahkan Woody dan teman – temannya, namun dengan sudut pandang berbeda. Sebelumnya Woody selalu yakin kalau keberadaan dia di dunia ini untuk memastikan kebahagiaan pemiliknya. Dulu ia merupakan milik Andi, kini ia sudah menjadi milik Bonnie.

Suatu ketika, Bonnie yang baru memulai sekolah membawa pulang mainan baru yang diciptakannya dari sampah. Ia memberi nama mainan itu Forky.

Woody yang mengetahui kalau Forky membantu Bonnie untuk merasa senang di sekolah mencoba untuk menghalangi Forky yang selalu ingin membuang diri karena menganggap dirinya merupakan sampah.

Saat Bonnie dan keluarganya sedang berlibur, terdapat suatu kejadian yang membuat Woody dan Forky harus terpisah dari yang lain. Ini membuat mereka berdua melalui perjalanan jauh dan petualangan baru yang akhirnya mempertemukan Woody dengan teman lamanya yang hilang, Bo Peep.

Film ini mengajarkan tentang pada setiap akhir, maka nantinya akan menjadi awal dari kisah yang baru.

Di sini Bo Peep sudah bukan merupakan mainan dari adik Andi, ia disumbangkan, namun akhirnya ia memilih untuk menjadi mainan yang bebas.

Dulu ketika ia merupakan mainan Andi, ia selalu di spesialkan. Sedangkan saat ia menjadi mainan Bonnie, gadis cilik itu seakan tidak menganggapnya. Tapi itu tidak membuat Woody kesal dengan Bonnie, ia tetap berusaha membuat gadis kecil itu bahagia.

Bahkan ia berusaha untuk menjaga Forky meski kesal pada mainan buatan Bonnie itu, karena jika Forky hilang khawatir Bonnie akan bersedih.

Selain menghibur dengan tingkah lucu mainan yang ada di film ini, ada juga sisi horor yang membuat penonton tegang ketika menontonnya.

Yaitu ketika berada di toko mainan antik dan bertemu dengan mainan bernama Benson yang karakternya mirip dengan Slappy di film Goosebumps. Itu memberikan warna tersendiri di film Toy Story 4 ini.

Mengenai adegan sedih, sepertinya tidak ada seri Toy Story yang dapat menyaingi adegan di Toy Story 3 ketika Andi mencoba merelakan mainan – mainannya untuk Bonnie.

Kalau melihat kembali karakter mainan yang sudah ada sejak tahun 995 ini, mereka tetap tampil sama menyenangkannya dengan film – film sebelumnya.

Yang membuat beda adalah pada film ini Buzz tidak lagi menjadi pemeran utama kedua, namun ia tetap menjadi sahabat terbaik Woody.

Vvisual dari film ini bisa membuat mata kita nyaman memandanginya. Film yang digarap puluhan bulan ini menghasilkan animasi yang tampak nyata, bahkan para pemainnya tampak benar – benar hidup di dunia nyata.

Warna – warna yang ada akan menyesuaikan dengan mood. Seperti ketika Woody dan Forky berjalan kembali menuju Bonnie, di situ adalah momen yang cukup sendu, maka warna yang di tampilkan agak kelabu.

Lagu – lagu yang sudah ada sejak film pertamanya masih bisa kita dengarkan dan tetap eksis, sehingga bisa membuat kita merasakan nostalgia.

Ketika menyaksikan film ini, jangan terlalu berespektasi pada konflik yang ada, karena memang dasarnya merupakan film untuk anak – anak. Sebaiknya nikmati saja filmnya.

Ulasan Film Inside Out

Pernahkah kamu berpikir sebenarnya apa yang terjadi pada otakmu ketika sedang menangis, tertawa, malu, marah, dan jijik terhadap sesuatu? Di film Inside Out ini, kalian akan melihat gambaran bagaimana kerja otak dengan cara yang menggemaskan. Mungkin itu bukan benar – benar bagaimana otak bekerja, hanya saja ini tetap menjadi tontonan menarik untuk disaksikan bersama dengan keluarga.

Inside out adalah film dari Pixar Animation Studio yang dirilis pada tahun 2015 oleh Walt Disney Pictures. Film ini akan mengajak penonton melihat perubahan emosi yang signifikan saat seorang anak, bernama Riley, ketika ia memasuki usia remaja.

Diawali dengan kisah masa kecil Riley yang merupakan anak ceria dan periang, ia juga penuh dengan kasih sayang yang orang tuanya berikan. Sampai suatu ketika, ia dan keluarganya harus pindah ke San Fransisco, California, yang membuat Riley mengalami perubahan emosi dalam dirinya.

Ia merasa kesulitan untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya yang dirasa benar – benar berbeda dengan tempat yang sebelumnya.

Dalam film ini, Riley memiliki 5 karakter emosi, yaitu Joy, Sadness, Fear, Disgust, dan Anger. 5 karakter ini cukup untuk mewakili perasaan apa yang ingin disampaikan ke penonton. Kita akan diajak untuk melihat bagaimana isi kepala dari Riley.

Dapat dikatakan film ini sangat menarik untuk disimak, terlebih lagi sebelumnya sudah dilakukan riset selama 5 tahun lamanya sebelum membuat film ini. Inside Out menunjukkan bahwa memori yang penting dan yang paling berarti nantinya akan disimpan pada core memories dan akan memberikan pengaruh yang besar.

Core memories ini akan menentukan bagaimana nantinya kepribadian dari Riley. Sementara memori lain akan disimpan pada penyimpanan yang luas, baik untuk jangka panjang atau pun memori jangka pendek. Ini semua nantinya akan diproses ketika sedang tertidur, jadi kadang – kadang ada ingatan yang terbuang dan terlupakan ketika kita bangun dari tidur.

Film ini akan mengajak penonton untuk melihat perjalanan dari Joy dan Sadness yang memiliki sifat bertolak belakang. Joy tidak ingin Riley bersedih, itu sebabnya ia tidak begitu menyukai Sadness.

Mereka berdua secara tidak sengaja terhisap oleh pipa yang seharusnya membaca core memories dan menyebabkan mereka berdua terpaksa harus mencari jalan untuk bisa kembali ke tempat asal mereka. Awalnya memang terjadi banyak perseisihan, namun seiring dengan perjalanan mereka, lama – lama mereka semakin mengerti satu sama lainnya.

Jika diperhatikan lebih lanjut, film ini seakan menunjukkan transisi dari sisi anak – anak ke dewasa. Pemikiran ini yang membuat penonton mudah untuk tersentuh ketika menyaksikannya.

Ketika di perjalanan, Joy dan Sadness bertemu dengan teman imaginary Riley yang sudah mulai dilupakan oleh gadis itu. Tokoh berbentuk gajah dan permen kapas itu bernama Bing Bong. Ia membantu Joy dan Sadness untuk menemukan jalan menuju tempat asal Joy dan Sadnees. Tapi di tengah perjalanan mereka, Bing Bong yang berusaha untuk menyelamatkan Joy akhirnya mengorbankan diri untuk dilupakan oleh Riley selamanya agar Joy bisa tetap pergi dari jurang.

Moral yang bisa kita ambil dari film ini salah satunya adalah mengenai kita yang harus menerima segala aspek dalam diri kita. Masing – masing emosi yang ada pada diri bisa berperan penting untuk proses kedewasaan kita. Oleh karena itu kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik nantinya ketika sudah menerima diri kita sepenuhnya.