Monthly Archives: June 2020

Review Film : Coco

Coco, sebuah film yang penuh dengan hal tidak terduga di dalamnya. Bukan merupakan film sekuel, tapi saat debut penayangannya film ini berhasil menarik banyak perhatian dengan kisahnya yang dianggap unik dan berbeda dari yang lain. Apalagi bukan Disney dan Pixar namanya jika tidak memberikan sajian animasi yang penuh dengan makna.

Film ini sendiri disutradarai oleh Lee Unkrinch yang turut menjadi penulis naskah. Unkrinch sendiri merupakan sosok dibalik layar yang dikenal tidak akan bermain – main dalam menggarap filmnya. Hal ini bisa dibuktikan dengan larisnya film – film seperti Finding Nemo, Toy Story 3, dan Monster, Inc. Ia juga selalu memberikan kejutan tidak terduga di filmnya. Hal itu ia kembali tunjukkan pada film Coco ini.

Kisah dari film Coco ini sangat kental dengan budaya suatu daerah, bahkan hal ini langsung dapat kita lihat dari cuplikan trailer film Coco.

Dikisahkan seorang anak laki – laki bernama Miguel yang memiliki keinginan kuat untuk bermusik. Apalagi ia memiliki seorang inspirasi dalam bermusik bernama Ernesto de la Crus, seorang penyanyi legendaris yang sangat ia idolakan. Miguel juga merasa kalau ia memiliki beberapa kemiripan dengan idolanya tersebut dan terkadang mencoba untuk meniru idolanya tersebut.

Namun keinginannya tersebut terhalangi oleh keluarganya yang melarang keras dirinya untuk bermusik. Hal itu membuat Miguel melakukan kegiatan bermusiknya secara diam – diam.

Pada suatu ketika Miguel mencoba peruntungannya dengan mengikuti lomba musik, hanya saja gitarnya rusak. Itu tidak menghalanginya dan malah mencoba untuk mengambil gitar miliki Ernesto de la Crus, orang yang kala itu ia percayai merupakan kakek buyutnya.

Namun kemalangan terjadi, saat hendak kembali setelah mengambil gitar tersebut, malah hal itu membuatnya memasuki dunia arwah atau tanah kematian.

Film ini sangat lekat dengan budaya meksiko dengan mengangkat tradisi Dia de Muertos. Tradisi ini merupakan dimana merayakan mereka mengingat dan juga mengenang kembali anggota keluarga yang telah berpulang. Terdapat satu tuntutan yang ada di dalam film ini, yaitu mereka harus dapat menjaga keaslian dari budaya.

Bahkan untuk menjaga keakuratannya, Disney melakukan kunjungan penelitian ke Meksiko. Pixar Animation juga melakukan kolaborasi dengan tim konsultan budaya. Hal ini mereka lakukan agar semakin dapat menghidupkan cerita juga mempertimbangkan seluruh dari detail.

Selain itu mereka turut mengunjungi pasar, museum, gereja, plaza, sampai ke kuburan yang ada di meksiko agar muncul inspirasi untuk membuat film ini. Jadi jangan heran kalau pengerjaan film ini tidak sebentar.

Ketika menyaksikan film ini, pasti penonton akan terpukau dengan apa yang mereka lihat. Apalagi pengerjaan animasinya tidaklah main – main. Terdapat 3 sineas utama yang mengerjakan film ini, yaitu Unkrinch sebagai sutradaranya, Adrian Molena sebagai asisten dari sutradara, dan juga ada Darla K. Anderson sebagai produser. Mereka mengerjakan film ini dengan totalitas yang mendalam.

Bahkan Unkrinch mengatakan ia sangat bangga dengan filmnya yang satu ini. Hal ini karena ia sudah lama untuk mengerjakan Coco. Bahkan ia juga melibatkan anggota yang berasal dari komunitas lainnya dalam pembuatan film tersebut.

Audio yang tedapat dari film ini juga dapat membuat kita ikut tertarik mengikuti alunannya. Apalagi film yang bergenre musical ini memiliki banyak lagu yang akan langsung dapat telinga kamu terima dengan baik dan membuatnya ingin terus menerus mendengarkannya.

Jadi jangan lewatkan tontonan keluarga yang satu ini yaa!!

Review : Aladdin

Review : Aladdin

Spoiler Alert! Perlu kami ingatkan bagi kamu yang belum menonton film Aladdin, artikel Review : Aladdin mengandung Spoiler! Semoga tidak mengganggu kalian, ya!

Review : Aladdin

Nah, mari kita akui kalau film Aladdin ini memang merupakan Live-Action Disney yang tidak akan masuk ke dalam list film mengecewakan. Krena apa? Karena film yang diadaptasi dari film animasi Aladdin di tahun 1992 ini menjadi salah satu film yang paling banyak dicintai. Bukti kalau Aladdin memang sebagus itu adalah pasti tidak ada yang dapat melupakan sosok putri Jasmine dan Aladdin saat mereka menyanyikan lagu A Whole New World di atas permadani terbang milik Aladdin.

Review : Aladdin

Aladdin sendiri dikisahkan sebagai seorang pemain judi casino sbobet, Ia bisa langsung dengan tiba – tiba mencuri barang dari orang tanpa orang tersebut menyadarinya. Pria ini hidup sebatang kara dan hanya ditemani oleh seekor monyet bernama Abu.

Pada suatu ketika, Aladdin bertemu dengan putri Jasmine yang sedang melihat keadaan rakyatnya di pasar. Namun Putri Jasmine menyamar dan mengaku sebagai pelayan putri. Aladdin mengambil gelang milik Jasmine, ia lalu berjanji akan mengembalikannya.

Saat memasuki istana, Aladdin tertangkap oleh penjaga. Ia pun di tawan dan dibawa menuju sebuah gua atas perintah Jafar, penasihat istana yang licik. Gua tempat dimana Jafar membawa Aladdin menyimpan banyak sekali emas, namun Jafar menyuruh Aladdin agar hanya mengambil lampu ajaib saja.

Tetapi karena memang sudah dilatih untuk mencuri, Abu mengambil beberapa emas yang ada di gua itu. Hal itu menyebabkan gua tersebut hancur dan hampir mengubur Aladdin beserta degan Abu dan karpet ajaib yang ia temui di dalam gua itu.

Karena itulah Aladdin menemukan lampu ajaib yang jin di dalamnya dapat mengabulkan 3 permintaan. Bisakah Aladdin membuat putri jasmine jatuh cinta kepadanya melalui 3 permintaan tersebut?

Film Aladdin memiliki nuansa yang tergolong segar. Film ini menawarkan sebuah film aksi yang meriah, petualangan fantasi, dan juga berbagai lelucon yang renyah.

Dapat dikatakan memang film ini tidak dipromosikan sebaik film – film marvel, hanya saja film ini karena bagus, banyak orang yang membicarakannya dan membuat orang lain penasaran akannya.

Penonton tidak hanya akan mersakan nostalgia untuk film versi animasinya, namun juga mebuat mereka senang melihat Aladdin menjadi versi yang modern dan baru, sehingga layak untuk diapresiasi.

Namun sayangnya, terdapat stereotip pada budaya arab membuat film ini cukup kurang bagi mereka yang memperhatikannya, contohnya yang terdapat pada lagu Arabian nights, dan hal itu membuat konotasi yang cukup tidak megenakkan.

Meski film ini terasa lebih segar, jalan cerita pada endingnya cukup mengejutkan karea berbeda dengan versi Aladdin animasi di tahun 1992. Di sini Jin yang selalu menemani Aladdin akhirnya memang di lepas dan tidak menjadi budak lagi. Namun ia menjadi manusia, berbeda dengan versi animasi yang ia masih menjadi seorag Jin.

Bahkan Jin yang ada di film ini menikah dengan pelayan Putri Jasmine dan sampai memiliki anak. Film ini juga sebenarnya merupakan cerita yang Jin ceritakan kepada kedua anaknya saat mereka sedang berada di atas kapal.

Bagi kamu yang memang menyukai karya besutan Disney, film ini wajib menjadi tontonan. Karena banyak sekali pesan moral yang bisa di dapatkan dari film ini selain jalan ceritanya yang menarik. Bagaimana? Tertarik untuk menontonnya?

Review : Cinderella (2015)

Cinderella merupakan dongeng setiap anak yang hingga kini masih populer dan seakan terus menerus diceritakan kepada anak – anak. Kisah klasik karya Hans Christian Andersen ini telah berkali – kali diadaptasi oleh berbagai studio. Salah satu yang mengangkat cerita ini adalah Disney, bahkan animasi Cinderella telah dibuat sejak 1950 silam.

Disney kini sedang gencar membuat film Live-action dari film – film animasi terdahulunya, Cinderella pada tahun 2015 lalu seakan menjadi pembuka dari live action princess Disney. Meski sebagian penikmat film sudah mengetahui tentang jalan cerita dari film ini, mereka tatap menyempatkan waktu untuk duduk di bangku bioskop dan menonton film ini.

Lalu adakah yang membedakan antara live action dengan animasinya?

Kisah Cinderella diawali dengan Ella (nama asli Cinderella) saat ia masih kecil dan hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Hingga suatu ketika sang ibu meninggal, ia mengingat pesan terakhir dari ibunya adalah Ella harus hidup dengan keberanian dan menjadi baik. Beberapa tahun berselang, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki 2 anak perempuan.

Tak lama setelah pernikahan, ayah Ella harus keluar kota untuk urusan bisnis. Ayahnya menanyakan apa yang Ella inginkan sebelum ia pergi, Ella hanya meminta ranting pertama yang ia lihat. Dan selama ayahnya tidak di rumah, sang ibu tiri dan kedua saudari tirinya memperlakukannya seperti pembantu. Mereka menyuruh Ella mencuci pakaian, memasak, dan lain hal sebagainya. Padahal saat itu mereka masih memiliki pembantu.

Ternyata malang memang nasib Cinderella, ia kehilangan ayahnya. Seseorang memberikan kabar mengenai kepergian ayahnya dan membawakan Ella ranting yang ayahnya janjikan. Hal itu membuat Ella semakin terpuruk. Saat ia bersedih, ia membawa lari kudanya ke hutan.

Disanalah ia bertemu dengan Kit, seorang pemuda yang ia temui di hutan. Ella merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Kit. Kit sendiri tidak mengaku sebagai pangeran, tapi ia bilang jika dirinya orang istana.

Hingga suatu ketika ada undangan yang disebarkan oleh istana dan seluruh rakyat boleh mengikuti pesta tersebut. Ella berniat untuk pergi, namun sayangnya ia dilarang untuk ikut oleh ibu tirinya. Ditengah kesedihan tersebut, ia bertemu dengan ibu peri pelindungnya yang tadinya menyamar sebagai seorang nenek tua yang membutuhkan makanan.

Peri itu lalu membantu Ella untuk pergi ke pesta dansa. Dibuatkannya lah gaun, sepatu, dan kereta kencana untuk membawa Ella pergi ke pesta dansa.

Lalu yang membedakan apa? Jika menyaksikan kisah dari Live-action ini, Disney tetap menyelipkan beberapa bagian yang bisa membuat penonton penasaran namun tetap pada jalan cerita yang ada. Selain itu pangeran pada live-action ini lebih memiliki peran yang berarti jika dibandingkan dengan yang ada di animasinya.

Untuk kualitas efek di dalam film ini, penonton akan terpukau dengan indahnya efek yang mereka berikan. Seperti misalnya saat Ella mengubah bajunya dari yang lusuh menjadi sebuah gaun biru yang cantik.

Dapat dikatakan film Cinderella ini sangat layak untuk menjadi tontonan. Apalagi terdapat beberapa plot twist yang Disney sematkan didalamnya, namun malah membuat penonton merasa hal tersebut menjadi lebih masuk akal untuk diterima oleh akal sehat orang modern kini.

Kamu bisa meluangkan waktu untuk menonton film ini bersama dengan keluarga atau sanak saudara, karena memang pada kenyataannya film ini sangat layak untuk dijadikan tontonan. Semalat menonton!

Review : Beauty and The Beast

Review : Beauty and The Beast

Review : Beauty and The Beast

Beauty and the Beast merupakan kisah dongeng anak – anak yang terkenal akan kisah cinta seorang gadis cantik asal desa bernama Belle yang tinggal bersama dengan ayahnya, Maurice di pedesaan Prancis. Maurice ditahan karena telah mencuri setangkai mawar merah di sebuah istana tengah hutan milik Beast. Belle yang berbakti, ia menggantikan ayahnya yang terkurung dalam penjara dan membuatnya menjadi tahanan abadi. Seiring berjalannya waktu, Belle melihat sisi baik dari Beast dan akhirnya menaruh empati pada monster tersebut.

Pada akhirnya diketahui bahwa Beast merupakan seorang pangeran yang dikuruk karena ia memiliki sifat yang kurang menyenangkan. Akhirnya setelah beragam problema di hadapi, mereka pun hidup bersama dan bahagia selamanya.

Akhir – akhir ini Disney sering membuat film animasi mereka menjadi live action, salah satunya adalah Beauty and the Beast. Film ini dibintangi oleh Emma Watson yang berperan sebagai Belle.

Film ini memiliki genre musikal dan kami rasa hal ini cocok untuk live action ini. Apalagi jika mengingat hampir semua film Disney memang mengusung genre musikal yang menghadirkan beragam lagu legendaris.

Banyak lagu yang ada di film Beauty and the Beast ini yang menjadi lagu favorit penontonnya. Diantaranya adalah Be Our Guest dan Beauty and The Beast. Selain beberapa lagu lama, mereka juga menambah lagu baru dari Alan Menken, orang yang sama dengan yang mengerjakan vesi animasinya dulu. Namun sayangnya saat Belle dan Beast menari, tampilannya tidak semegah versi animasinya.

Pada live action ini, Disney dirasa berhasil menghidupkan karakter yang ada, karena jajaran cast yang dipilih telah menjalankan tugas mereka dengan sangat baik. Seperti Emma Watson yang berhasil menampilkan pesona seorang gadis cantik dan independen. Hal ini seakan mengingatkan kita pada karakternya pada film Harry Potter saat berperan menjadi Harmony, seorang penyihir yang kutu buku.

Selain itu, chemistry yang ada pada pemeran Belle dan Beast sangat terasa. Apalagi jika diingat kalau film ini memang memiliki genre romantic, karena penonton akan terbawa perasaan tentang kisah cinta mereka. Karakter yang pada awalnya tampak saling tidak menyukai, berkat bantuan para perkakas di rumah itu akhirnya mereka saling mencintai.

Karakter lain yang tidak kalah menarik perhatian adalah Luke Evans yang berperan sebagai Gaston. Ia berperan sebagai sosok yang narsis, tampan, namun egocentric dan menyebalkan. Ia merupakan karakter yang digilai banyak wanita, mempesona, dan banyak wanita ingin memilikinya. Tetapi Gaston menyukai Belle, hanya saja Belle tidak menyukainya.

Adapula karakter yang menjadi perabotan rumah tangga di Istana Beast. Mereka seakan benar – benar menghidupkan suasana di istana dengan sangat baik. Seperti saat Belle pertama kali datang, kehebohan mereka menyambut Belle karena mereka yakin gadis itu akan melepaskan kutukan yang selama ini menyelimuti mereka. Juga pada saat menyanyikan lagu Be Our Guess, mereka menari dengan lincahnya. Selain CGI yang baik, dalam aspek ini Voice actor juga mendapatkan pujian karena perannya yang sangat baik.

Jika melihat dari film Beauty and the Beast, kami mengharapkan Disney akan terus membuat film Live Action dengan kualitas terbaik mereka. Karena film – film yang sudah mereka angkat terbukti sukses dipasaran, meski jalan cerita yang ada sudah diketahui, hal ini seakan tetap membuat orang – orang penasaran dengan film – film dari Disney tersebut.

Ulasan film Maleficent: Mistress of Evil

Ulasan film Maleficent: Mistress of Evil

Ulasan film Maleficent: Mistress of Evil

Maleficent, yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh jahat yang merupakan musuh dari Aurora, pada film pertamanya ia digambarkan menjadi orang yang jahat, namun pada akhir film ia menjadi sosok yang baik. Tapi apakah pada film Maleficent: Mistress of Evil ini dia masih baik?

Sama seperti film sebelumnya, film Maleficent: Mistress of Evil ini masih diperankan oleh Angelina Jolie. Maleficent sendiri merupakan sosok yang memiliki mata berwarna hijau, tanduk hitam besar, tulang pipi yang tampak menonjol, dan jangan lupakan sayap besarnya yang membuat Maleficent semakin kuat.

Continue reading Ulasan film Maleficent: Mistress of Evil

Moana, Gadis Pemberani Penjelajah Laut

Moana, sebuah karya dari Disney yang bisa dikatakan sama sekali tidak mengecawakan. Film Disney satu ini sangat penuh dengan pesan moral dan tentunya menginspirasi.

Disney membuat film ini sangat berisi dan membuat kita terhibur dengan yang ditampilkan. Selain itu film ini juga dapat dinikmati oleh semua kalangan, semua umur. Tidak seperti film Disney Princess yang menyuguhkan kisah percintaan, di Moana mereka menyuguhkan perjuangan seorang gadis pemberani yang menaklukan laut.

Dikisahkan, seorang gadis berusia 16 tahun bernama Moana yang selalu penasaran dan juga tertarik untuk dapat mengarungi lautan, Namun panggilan alam yang ia rasakan itu tidak pernah disetujui oleh ayahnya, Chief Tui.

Hal ini dikarenakan oleh kejadian di masa lalu yang membuat ayahnya tidak ingin Moana tertelan oleh luasnya lautan.

Namun pada suatu ketika, Moana merasa terdesak untuk mencoba mengarungi lautan luas itu. Hal itu dikarenakan kondisi rakyatnya dan pulau sedang dalam keadaan sekarat. Kelapa tidak menghasilkan buah yang bagus, ikan di laut menghilang, dan penduduk kebingungan harus bagaimana.

Menurut cerita rakyat yang neneknya ceritakan, semua itu dikarenakan sekaratnya Te Fiti, sang dewi pencipta kehidupan karena jantungnya dicuri. Jantung Te Fiti di curi oleh manusia setengah dewa yang bernama Maui. Jantung yang berupa spiral berwarna hijau itu jatuh di tengah laut, lalu menghilang.

Hingga suatu ketika jantung itu muncul di tempat yang dekat dengan pulau Matunui, tempat tinggal Moana. Moana merasa terpanggol untuk menemukan Maui dan juga meminta pria bertubuh besar itu mengembalikan jantung itu ke Te Fiti agar kehidupan mereka kembali membaik.

Selama film berjalan, kita akan melihat bagaimana Moana bergelur dengan batinnya untuk bisa mencari jati dirinya. Hal ini karena ia tidak merasa cocok untuk menjadi pemimpin rakyatnya dengan berdiam diri pada sebuah pulau. Tapi ayahnya bersikeras untuk memaksanya tetap berada di pulau, jadi keinginan untuk mengarungi lautan sempat terhalang ayahnya.

Itu juga dianggap sebagai cara ia melindungi rakyatnya, wajar karena Moana merupakan kepala suku berikutnya dari pulau tersebut. Kita juga akan dibuat sebal saat melihat tingkah Maui, si manusia setengah dewa namun kehilangan kekuatan saat tongkat kailnya rusak atau bahkan hilang. Namun tokoh Maui ini menambah kelucuan dan sensasi menegangkan di film ini.

Maui dan tongkat kailnya ini cukup menjadi perhatian selama film. Maui-lah yang mengajari Moana cara berlayar, cara menentukan arah di laut, dan beragam hal lainnya. Namun sebaiknya, saat Maui kehilangan percaya diri, Moana yang menyadarkannya tentang diri dia.

Moana dan Maui menjadi dekat dan akhirnya, Maui yang tadinya terus menolak untuk menemui Te Fiti akhirnya setuju untuk ikut mengembalikan jantung itu ke pemiliknya.

Selain kisahnya yang menarik, hal lain yang patut diapresiasi adalah animasi yang luar biasa keren. Dengan gambaran hamparan laut yang terasa sungguhan, serta kehidupan yang nyata, membuat film ini semakin membuat penontonnya terhibur.

Musik yang ada di film yang disutradarai oleh John Msker dan Ron Clements ini juga lumayan memanjakan telinga. Lagu – lagu bikinan Manuel Miranda ini dinyanyikan langsung oleh para pengisi suaranya, seperti Dwane Johnson yang berperan sebagai Maui, dan Auli’l Cravalho yang berperan sebagai Moana. Lagu lagunya pokoknya akan membuat kita semakin menikmati jalannya film

Jika dilihat secara keseluruhan, wajar jika film ini merupakan salah satu film disney yang meraih pendapatan fantastis. Tertarik menonton Moana?

Review Film : Frozen II, Petualangan Baru Elsa dan Anna.

Setelah berselang 6 tahun dari seri pertamanya, kisah petualangan dari kakak beradik Elsa dan Anna akhirnya berlanjut pada Frozen 2. Masih mengusung tema yang sama namun pastinya dengan konsep cerita yang berbeda.

Sutradara yang mengarahkan film ini masih sama, yaitu Jennifer Lee dan Chris Buck. Frozen II dibuat dengan latar musim gugur dan berselang 3 tahun setelah kejadian dari seri pertama yang rilis pada tahun 2013 lalu.

Pada film ini, pertumbuhan karakter sangat terasa karena mereka kini juga semakin dewasa. Cerita yang ada juga dibuat semakin kompleks namun dikemas menjadi sebuah sekuel yang berhasil memenuhi espektasi penggemar.

Selepas kepergian ayah juga ibunya, pada film pertamanya Elsa tidak berani menghadapi dunia untuk dapat menunjukkan kekuatannya. Lalu ia kabur setelah mengakibatkan badai salju di kerajaannya. Saudarinya, Anna, berusaha menemukannya serta membujuk Elsa untuk mengemablikan kerajaan seperti semula. Kisah pun diakhiri dengan Elsa dan Anna yang akhirnya mengerti satu sama lain tentang kuatnya cinta sejati.

Kini mereka tinggal bersama Olaf, si boneka salju yang tidak sengaja Elsa ciptakan, Kristoff, dan rusa kutubnya Sven di istana Arendelle.

Diawali dengan ingatan Elsa mengenai cerita ayah dan ibunya tentang hutan. Sebuah hutan ajaib yang kini tengah menghilang dan tidak dapat ditemukan.

Hingga suatu ketika Elsa mendengar sebuah suara yang mengalun, ia yakin suara itu bukan suatu yang biasa. Suara ini pasti berhubungan dengan misteri keberadaan hutan ajaib yang kedua orang tuanya ceritakan. Hal ini terus menghantuinya sampai pada akhirnya ia mencoba untuk mencari tahu dari mana asal suara tersebut.

Namun ternyata usahanya ini malah menimbulkan sebuah masalah baru, ia membangkitkan roh – roh dari hutan ajaib yang marah. Bahkan sampai kehidupan di Arendelle terancam karenanya.

Elsa yang merasa bersalah memutuskan untuk mencari jalan menuju hutan ajaib agar dapat menyelamatkan Arendelle seorang diri.

Namun aksinya ini dicegah oleh Anna, karena Anna tidak mau kehilangan kakaknya untuk kedua kalinya. Meski akhirnya mereka pergi bersama dengan Olaf, Sven, dan tentunya Kristoff.

Dalam perjalanannya, mereka tidak hanya menelusuri akar permasalahan yang ada diantara Arendelle dengan hutan ajaib. Namun juga menemukan apa penyebab sesungguhnya dari kematian kedua orang tua mereka.

Frozen II ini juga tidak hanya menguak misteri yang tidak  terjawab pada Frozen, namun juga menjadi gambaran proses pendewasaan dan pencarian jati diri dari masing – masing karakternya.

Seperti Olaf contohnya, ia merasa gelisah karena akan tumbuh dewasa dan menganggap dewasa akan membuat hal magis tidak masuk akal.

Elsa menjadi orang yang lebih percaya diri dengan segala tindakan yang ia lakukan dan berusaha memahami situasi serta mengendalikan diri saat tengah menghadapi masalah. Akhirnya Elsa dapat menerima perbedaan dalam diri dengan kekuatan yang ia miliki.

Anna juga demikian, ia memang tampak berlebihan pada awal karena ketakutannya kehilangan kakak. Namun ia kini juga digambarkan dapat menentukan sikap juga keputusan.

Apalagi jika diperhatikan dengan lebih seksama, pola cerita pada Frozen II ini tidak jauh berbeda dengan pendahulunya dan cukup terlihat pada proses Elsa berganti gaun. Yang membedakan adalah film ini memiliki suguhan yang tampak lebih segar.

Apalagi animasi serta sinematografinya yang sangat memanjakan mata sepanjang film. Belum lagi lagu – lagu yang sangat memiliki kekuatan tersendiri serta membekas di telinga penontonnya.

Jika digambarkan secara umum, film ini akan membuat penonton terbawa dengan segala suasana dan menjadi sebuah hiburan yang sayang untuk dilewatkan.